Saat hari mulai siang suasana di kelas mulai suntuk, kepala udah teklak tekluk, guru udah masuk, dan saat itulah aku muali ngantuk. Yang bener aja jam siang d suruh belajar MATEMATIKA. What??? MTK? Aku sih kalau udah ngantuk gabakal bisa fokus, susah. Mainin bolpen di meja eh tiba tiba papan tulis udah penuh aja.
Asik mainan pulpen aku malah semangat pingin bikin puisi. Cuman mau bikin puisi apa ya? Bingung. Pingin sih kaya orang-orang, bikin puisi simpel aja apa yang diliat langsung jadi puisi. Coba sikat soal di papan tulis aja kalik ya. Sikat sih tapi bukan dikerjain cuman direnungin aja. Kalian tau puisinya Wira Nagara kan yang judulnya Distilasi Alkena? Nah yang puisi kali ini gua juga coba niru sih yah biarpun masih jauh bangetlah ya biarin. Makanya ini juga salah satu puisi tercepet yang pernah ku buat. Nanti kalian jangan terkejut sama bait pertama ya! Itu kalimatnya emang ambigu kalau di pikir-pikir cocok juga buat guru-guru pelajaran eksak. Cus di simak aja guys!
Elegi Trigonometri
Dhinan Syakir
Lihat
Semua keterangan yang kau berikan
Tak mampu menjelaskan satu yang kuinginkan
Dengar
Segala tanya yang mengetuk
Tak hanya mengutuk satu titik saja
akan tetapi tiga
Aku, kau, dan dia
Garis segitiga yang ia lukis diantara kita
Semua penjelasan yang berujung pertikaian
Cukup menempatkan kita pada kuadran yang berbeda
Hingga kau mempertanyakan seberapa besar
Seberapa besar elevasi yang kubukakan untukmu
Seluruh gemuruh tanya yang membawa pesan luka
Meletup perlahan menyusuri lereng kehancuran
Detik yang berbaris kian mendesak pengharapan
Mengisyaratkan bahwa garis yang menghubungkan kita
sudah sampai pada titik yang paling kritis
Dia sebagai siku diantara aku dan kamu
Kau sebagai sisi miring yang hendak berpaling
dan aku,
Hanyalah sisi samping yang siap terguling
Kasus ini terpecahkan tepat setelah kalian dipertemukan
dan sebelum perpisahan diantara kita
Benar benar terjadi
Sudah itu aja, makasih yang udah mau mampir di doakan banyak rejekinya hehe! Salam bukulicius rajin membaca pangkal kaya. KAYA ILMU OK!


