Puisi Bunga:Camelia Merah Muda
Desember 09, 2018
Hallo sobat semuaaa kembali lagi setelah lama (buanget) vakum hehehe! Lagi pingin nge posting puisi lama aja sih. Jadi beberapa hari yang lalu ada temen aku yang dari ALASKA minta tolong sama aku buat bantuin tugas dia bikin puisi. Sebenernya pingin nolak tapi ga enak juga, soalnya udah lama ga nulis puisi. Akhirnya aku kasih aja deh puisi lamaku, waktu itu buatnya iseng aja sih (lagi).
Hmm tapi ada yang beda sedikit sih, kali ini temanya tentang bunga. Aku kasih judul Camelia Merah Muda. Buat temen-temen yang belum tau bunga ini melambangkan kerinduan seseorang dan diberikan kepada seseorang yang telah lama dirindukan. Fakta unik lain bahwa petal bunganya yang halus dan berlapis-lapis mewakili seorang wanita, dan kelopaknya berwarna hijau yang menopang mahkota adalah representatif dari seorang lelaki yang melindunginya. Dua komponen tersebut (mahkota dan kelopak) tetap bersama-bersama bahkan setelah layu dan mati. Sebagaimana tanaman hias pada umumnya, jika petalnya jatuh, kelopaknya tetap utuh. Lain halnya dengan bunga camelia, mahkota dan kelopak bunganya jatuh bersama-sama. Itulah mengapa bunga ini mewakili cinta abadi dan pengabdian selamanya.
Lumayankaan jadi nambah-nambah pengetahuan sedikit. Jadi setiap bunga punya makna tersendiri bahkan meski masih dalam jenis yang sama namun berbeda warna bisa juga berbeda arti. Makanya guys kalau punya anak kasih nama jangan sembarangan, kasih nama yang artinya baik-baik, dan mengandung doa (Hahaha ngayal aja udah punya anak). Nih langsung aja cekidot.
Camelia Merah Muda
Dhinan Syakir
Hujan sore ini membawaku kembali membaca percakapan kita,
saat aku dan kamu masih menjadi bagian dari cerita cinta.
Aku tertawa walaupun diam-diam hatiku teriris mengingat bahwa segala hal manis ini tak mungkin terjadi lagi.
Tak mungkin juga aku mengemis kepada waktu agar ia mau menunggu.
Aku ingin memutar kembali kisah itu
Record yang kudengar dengan wajah tersipu, dan pandangan matamu yang kelihatan sayu
Tuhan melukiskann bahagiaku diwajahmu.
menyenangkan.
Di kantung mataku ada sebuah surat tanpa pena berjudulkan cinta.
Aku ingin terlempar dan membentur bola matamu.
Lalu menggelinding diatas setiap esokmu.
Sapaan hangatmu masih jelas kuingat.
Manis seperti coklat.
Hangat seperti secangkir kopi yang pekat.
Sore ini hujan pergi bersma pelangi.
Tapi sore itu, saat kau melangkah pergi.
Tak ada pelangi yang mengiringi.
Aku takut untuk mengartikan senyum d wajahmu.
Adakah yang manis itu masih untukku
Mentari mulai tergelincir.
Dan aku masih tak habis fikir.
Tentang apa yg membuat mu mangkir
Dari panggilan hati yang terusir
Terlalu cepat jika semua usai begitu saja.
membiarkanku terjerambab, dan terjatuh sendirian.
Jika kau kembali.
Kutitipkan salamku pada sajak ini.
Bila kau mencari.
Kau temukan maafku di sini.
Bila saja rindumu secara tak sengaja menjumpai namaku.
Jangan mencarinya di kedalaman hati.
Mungkin ia sudah larut jauh dalam emosi.
Pelabuhan akhirnyapun tiggallah memori.
Semoga saat hari itu tiba.
Semua masih terkemas rapi.
Agar kau dapat melihatnya kembali.
Dengan senyum penuh sesal.
Atas segala perihal yang bukan milikmu lagi.
Happy reading teman-teman! Makasih banyak sudah mau mampir. Salam Literasi, generasi muda bisa berprestasi dengan budaya literasi!

0 komentar